Total Tayangan Laman

Rabu, 18 Agustus 2010

Tema Pokok Al Qur'an : Studi Atas Karya Fazlurrahman

Oleh : Khoirul Asfiyak

Al Qur’an adalah sebuah kitab yang sempurna, tiada satupun karya gemilang manusia yang mampu menandingi keunggulan dan keistimewaannya. Suatu kitab yang dalam sejarahnya yang panjang belum pernah memiliki daftar ralat sekalipun diterbitkan oleh berbagai penerbit dalam satu negara bahkan oleh berbagai negara yang berbeda. Suatu kitab yang tiada pernah henti-hentinya dibaca, dihafalkan dan dicari penegertian maknanya oleh berjuta-juta orang dari berbagai generasi.




A. Pendahuluan.
Al Qur’an adalah sumber insipirasi yang tiada pernah kering untuk ditimba mutiara hikmah yang tersimpan di dalamnya.Ia dalam pandangan Abdullah Darraz (1960:111) bagaikan intan yang setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dengan apa yang terpancar dari sudut-sudut yang lain yang tidak mustahil jika seseorang mempersilahkan orang lain memandangnya, maka orang itu akan melihat jauh lebih banyak dari apa yang orang pertama itu melihatnya. Makna yang tersimpan dalam redaksi kata-katanya tak pernah berhenti pada satu maksud semata. Sebagaimana ungkapan Muhammad Arkoun ( 1988:182-183) yang menyatakan bahwa al qur’an memberikan kemungkinan-kemungkinan arti yang tak terbatas. Kesan yang diberikan oleh ayat-ayatnya mengenai pemikiran dan penjelasan pada tingkat wujud adalah mutlak. Dengan demikian ayat selalu terbuka ( untuk interpretasi) baru, tidak pernah pasti dan tertutup dalam interpretasi tunggal.
Fazlurrahman sebagai salah seorang penggerak aliran Neo-Modernisme adalah termasuk diantara sekian banyak ulama yang mencoba memahami dan memberikan pemahaman yang berbeda tentang al Qur’an. Lewat karyanya yang berjudul “Major Themes of Qur’an” ini beliau mencoba menawarkan pandangan-pandangan segar dan terkesan amat brillian mengingat kapasitas beliau bukanlah sebagai seorang mufassir. Kitab ini menarik karena penulisnya disamping bukan membidangi persoalan-persoalan tafsir (al qur’an) ia adalah seorang pembaharu dan pemikir islam modern. Sehingga ketika karya ini dibaca, ada nuansa baru yang bisa dipancarkan dari setiap bahasan yang dibuatnya. Mudah-mudahan review sederhana ini bisa menjangkau dan menangkap pesan-pesan sebagaimana maksud buku aslinya.

B. Pokok Isi Buku.
Karya Fazlur rahman yang aslinya berjudul “Major themes of Qur’an” ini terdiri dari Pendahuluan, isi buku dan appendiks I dan II yang sesungguhnya kedua catatan ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan tema pokok al Qur’an, kecuali bahwa kedua appendiks tersebut disertakan dalam satu buku semata-mata untuk mendukung dan memperjelas komentar dan uraian-uraian fazlur rahman di dalam mengurai kondisi sosial dan dan setting sejarah yang mewarnai wajah al qur’an.
Al qur’an adalah kitab yang sempurna didalamnya memuat berbagai segi hubungan manusia dengan Tuhannya, hubungan manusia dengan diri dan sesamanya dan hubungan manusia dengan alam disekitarnya. Agaknya tema-tema inilah yang kemudian oleh fazlurrahman digambarkan dalam bukunya dengan lebih memperjelas tema-tema la qur’an itu kedalam 8 (delapan) kategori.
Salah satu dari kedelapan tema yang termuat dalam kandungan al qur’an adalah tentang aspek Tuhan. Fazlurrahman mempertanyakan tentang rasionalitas manusia dalam mengakui setidak-tidaknya mempercayai adanya wujud Tuhan ( hal. 2) Dalam pandangan beliau sesungguhnya al qur’an tidak “membuktikan” adanya Tuhan akan tetapi “menunjukkan” cara untuk mengenal Tuhan, melalui alam semesta yang ada (hal. 15)
Sisi lain kandungan al qur’an adalah manusia sebagai individu, dalam pandangan fazlurrahman asal usul manusia jelas beda dengan mahluk lainnya. Mengingat dalam diri manusia ada unsur ruh yang ditiupkan oleh Allah SWT. Sekalipun demikian ia menyangkal adanya dualisme individual antara jiwa dan raga dalam diri manusia sebagaiman terdapat pada filsafat yunani, agam kristen dan hinduisme ( hal. 26) beliau juga menjelaskan hakikat tujuan diciptakannyamanusia di muka bumi ini yakni sebgai khalifatullah mengemban amnah Allah SWt (28) Sekaligus hambatan dan tantangan yang dihadapinya dalam mengemban misi suci itu. Tantangan terbear manusia dalah syaitan karena ia melambangkan sifat kepicikan (dlaif) dan kesempitan fikir (قطر ) al qur’an tidak henti-hentinya menyebutkan kelemahan ini di dlm bentuk dan konteksyang berbeda. Karena kepicikannya kadang manusia berlaku amat sombong tetapi lekas putus asa. Tidak ada mahluk lain yang dapat menjadi sombong dan berputus asa sedemikian gapangnya seperti manusia (hal. 38-41) Oleh karena itu manusia yang baik harus memiliki keseimbangan yang dalam al qur’an disebut sebagai taqwa. Akar perkataan taqwa adalah waqy, berjaga-jaga atau melindungi diri dari sesuatu dan perkataan taqwa dengan pengertian ini dipergunakan juga dalam al qur’an surat ke-52:27 40:45 76:11 (hal 43)
Selain sebagai individu manusia dalah mahluk sosial, aleh karena itu al qur’an tdak bisa berdiam diri untuk tidak mengatur peri kehdiupannya dalam bermasyarakat. Bahwa tujuan diturunkannya al qur’an adalah menegakkan sebuah tatanan masyarakat yang ethis dan egalitarian , hal ini terlihat di dalam celaannya terhadap disekuilibrum ekonomi dan ketidak adilan sosial dalam masyarakat makkah waktu itu. Pada mulanya celaan itu lebih ditujukan kepada dua aspek yang berkaitan dengan pola hidup bermasyarakat yakni aspek politheisme dan ketimpanbgan sosial ekonomi yang menibulkan dan menyebebakna perpecahan diantara manusia (hal. 55)
Pada level sosial politik al qur’an juga ingin menguatkan unit kekeluargaan paling dasar yang terdiri dari orang tua, anak-anak, kakek,nennek dan masyarakat muslim dengan meniadakan rasa kesukuan. Kesetiaan kepad aorang tua ditegaskan dalam ayat 2:83 4:36 6:151 17:23 (hal61) semenatra dalam rangka melaksankan urusan pemerintahan al qur’an menyuruh kaum muslim untuk menegakkan syura (lembaga konsultatif) Nabi Muhammad SAW sendiri disuruh al qur’an (3:159) untuk memutuskan persoalan-persoalan setelah berkonsultasi dengan pemuka-pemuka masyarakat (hal 63) jika dalam musyawarah terjadi perselisihan dan berakibat peperangan diantara kelompok muslim, al qur’an menyerukan agar diangkat seorang penengah jika salah satu kelompok menolak penengahan ini maka ia harus diperangi (hal. 64) hal ini tidak berarti pemberontakan tidak diijinkan oleh al qur’an. Semua Nabi sesudah nabi Nuh adalah pemberontak terhadap tata nilai masyarakat yang didalamnya tersebar penyelewengandi atas dunia (fasad fil ardl) yang dapat diartikan sebagai keadaan yang menurus kepad apengabaian hukum secara politis, moral, sosial ketika urusan nasional / internasional tidak dapat dikendalikan lagi (hal. 65)
Tema lain yang memenuhi isi al qur’an adalah berita-berit atentang Nabi/rasul dan wahyu. Secar aumum dapat diaktakan bahwa semua rosul dibangkitkan adlah semata-mata menganjurkan pad afaham monotheisme bahwa hanya Allah SWt yang Esa dan yang patut disembah, tuhan-tuhan yang lain adalah palsu belaka (hal.121) menuurt al qur’an sebagai manusia belaka nabi dianggap wajar jika pernah melakukan kesalahansehingga ia harus terus menerus berjuang, jika tidak dapat berbuat demikian maka merka itu tidak dapat menjadi teladan bagi manusia yang lain (hal. 130) Minimal nabi tak pernah ingin menjadi nabi/ mempersiapkan dirinya menjadi seorang nabi, jelas sekali bahwa pwngalaman religius yang terjadi secara tak terduga itulah yang mengantarnya menjadi nabi (hal.132) Predikat kenabian bukan hal yang bagi bagi Nabi Muhammad Saw kadangkal ia dianggap sebgai kahin (52:29) atau penyair (36:69) dan tukang sihir (hal 136-137) yang menarik dalam pandangan fazlurrahman adalah ketika ia berpendapat bukan “malaikat”-lah mahluk yang menyampaikan wahyu kepada nabi Muhammad SAW, al qur’an tidak pernah menyatakan penyampai wahyu itu sebagai malaikat tetapi sebagai ruh/utusan spiritual. Allah SWt pernah menurunkan wahyu kepada malaikat akan tetapi dalm konteks yang berbeda(sebagai semangat orang islam/mu’min untuk berperang melawan musuh Allah SWT (8:12) Nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad SAW tampaknya berhubungan langsung dengan Allah SWT. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Nabi-nabi telah memperoleh manfaat dari ruh Allah SWT (hal.139) barangkali yang dimaksud engan ruh itu adalah kekuatan, kemmapuan /agensi yang berkembang di ahti Muhammad SAW dan jika diperlukan ia dapat berubah menjadi operasi wahyu yang aktual (hal.142)
Sisi lain kandungan al qur’an yang hanya sedikit disinggung adalah proses kejadian alam (kosmolologi/kosmogini) Jika al qur’an hnaya sedikit berbicara tentang kosmologi maka sebaliknya ia seringkali dan berualngkali membuat pernyataan-pernyataan mengenai alam dan fenomena alam yang kadang dikaitkan dengan Allah, dengan manusia atau kadang kedua-duanya. Pernyataan ini membersitkan isyarat tentang kekuasaan dan kebesaran Allah yang tak terhingga dan menyerukan agar manusia beriman kepada-Nya. Alam semesta beserta kekuasaan dan keteraturannya yang tak terjangkau akal ini harus dipandang manusia sebagai pertanda kekuasaan Allah SWT (hal.101) Informasi tentang proses kejadian alam ternyata pararel dengan apa yang disampaikan wahyu, sebagaimana dibuktikan penulis muslim pada abad pertengahan artinya informasi al qur’an tentang proses kejadian alam semesta adalah ilmiah adanya (hal.105) terakhir sekali bahwa alam semesta itu dalam gambaran al qur’an akan mengalami kehancuran di hari kiamat (hal. 114)
Bagian menarik lain dari alqur’an adalah persoalan eskatologis (akhirat) yang secara umum menggambarkan kenikmatan pahala surga dan azab neraka. Ide pokok tentang akhiat adalah munculnya kesadaran unik manusia tentang suatu pengalaman yang tidak pernah dialaminya dimasa-masa yang lalu (hal. 154) akhirat adalah saat kebenaran (hal. 154) dan tujuan akhir kehidupan /akibat jangka panjang dari amal perbuatan manusia diatas dunia ini. Semenatra dunia bukanlah “dunia ini” tetapi ia adalah nilai-nilai yang rendah /keinginan-keinginan rendah yang tampaknya sedemikian menggoda sehingga setiap saat dikejar oleh hampir semua manusia dengan mengurbankan tujuan-tujuan yang lebih mulia dan berjangka panjang( hal. 157) Konsep dasar akhirat sesungguhnya berujud sikap sarkasme al qur’an terhadap pedagang-pedang makkah yang bermegah-megahan dg emas, perak dan barang dagang lainnya.yang ditimbang adalah amal dan bukannya barang-barang tersebut (hal.158) Hanya saja al akhirat ini adalah sebuah ide yang sangat sulit untuk diterima oleh orang-orag mekkah jahiliyyah yang berpandangan sekularisme dengan alasan bahwa nnenek moyang dan leluhur mereka dulunya telah mendengar “kisah-kisah” ini jauh dimasa sebelumnya yang ternyata hal itu hanya khayalan orang-orang zaman dahulu (hal.168)
Menurut al qur’an akhirat adalah penting dengan alasan pertama, moral dan keadilan adalah kualitas untuk menilai amal perbuatan manusia yang itu tidak bisa ditegakkan di alam dunia, kedua, tujuan hidup harus diejlaskan dengan seterang-terangnya dan ap[a tujuan yang sesungguhnya dari kehidupan ini. Ketiga, perbantahan perbedaan pendapat dan konflik anttar manusia mestilah diselesaikan dan tempatnya adalah di hari akhirat nanti.
Adapun tema berikutnya adalah persoalan syaitan dan kejahatan. Fazlurrahman beranggapan bahwa iblis dan syaitan adalah personifikasi yang diruju’ al qur’an untuk mewakili kekuatan jahat yang ada dimuka bumi ini. Sekalipun demikian personifikasi syaitan sebagai aktor kejahatan masih menimbulkan perdebatan (hal. 178 & 189) Perbedaannya adalah bahwa syaitan kemunculannya bersamaan dengan kisah kejadian adam, jadi seusia dengan manusia walaupun sebelumnya telah ada dalam bentuk jin (hal. 181) sementara jin/iblis diciptakan sebelum adanya manusia berdasarkan 15:27 dan 7:12 (hal.180) al qur’an menggambarkan syaitan sebagai pembangkang perintah Allah SWT dan sebagi tandingan manusia, dan bukannya tandingan Allah SWT karena Allah SWT berada diluar jangkauannya. Jadi secara metafisis syaitan tidak sederajat dengan Tuhan, sbg-mana halnya Ahriman yang merupakan tandingan Yazdan dalam agama Zoroaster (hal.181) Dalam pandangan fazlurrahman aktifitas syaitan hanya mampu membingungkan manusia dan memendungi kesadaran-kesadaran batinnya (hal.182) syaitan tidak punya kekuatan akan tetapi kelicikan dan kelicinannya dengan menggunakan tipu daya, siasat membujuk dan berkhianat adalah aktifitas sejati syaitan (hal.183) Jadi kekuatan syaitan bertumpu pada kelemahan manusia (hal.184) Oleh karena itu yang berbahaya bagi manusia bukanlah faktor syaitan ansich/kekuatan syaitan akan tetapi sikap manusia itu sendiri yang tidak mengerahkan kekuatannya untuk melawan bujukan syaitan (hal.185)
Bagian terakhir dari tema-tema al qur’an adalah mulai dibangunnya sendi-sendi masyarakat muslim di Madinah. Keseluruhan bab terakhir ini membahas tentang kritik dan sanggahan beliau terhadap pendapat snouck Hurgronye , Theodore Noldekke, dan Friedrich Schwallly yang menyatakan bahwa risalah kenabian Muhammad SAW hanyalah bikinan muhammad belaka, karena muhammad ketika menyampaikan risalah islam tidak mendapat respon positif baik dari kalangan yahudi maupun nasrani. Respon negatif ini kemudian disikapi Nabi dengan menyatakan bahwa islam itu tidak berasal/ menginduk kepada kebesaran Yahudi ataupun Nasrani akan tetapi kepada Nabi Ibrahim. Satyu hal yang dalam pandangan Snouck dan orientalis pada umumnya adalah tindakan apologi belaka.

C. METODOLOGI

Buku yang ditulis oleh Fazlurrahman ini dalam ranah metodologi penelitian termasuk jenis penelitian non eksperimental yang jika dilihat dari segi tujuan dan sifat penelitiannya termasuk jenis penelitian deskriptip-kualitatif. Dengan asumsi bahwa di dalam karyanya itu Rahman sama sekali tidak menggunakan angka-angka statistik dan penarikan sampel/populasi terhadap obyek kajiannya. Sifat kajiannya yang bertujuan untuk menjelaskan (verstehen) menjadi indikator utama bahwa karya rahman ini identik dengan model-model penelitian kualitatif. Sekalipun sebenarnya dalam pandangan Karl Popper Verstehen ditolak dengan tegas sebagai metode ilmiahkarena tidak menghasilkan hipotesis yang dapat diverifikasi (Saidi, 2004:54)
Obyek kajian berupa teks dan konteks yang kemudian diposisikan sebagai data , baik berupa ayat maupun keseluruhan surat yang ada dalam al Qur’an.
Adapun pendekatan yang digunakan Rahman setidak-tidaknya meliputi hal-hal berikut ini
a. Studi Historis kritis, yakni metode yang beliau gunakan untuk mengkaji sebab dan akibat dalam sejarah sebuah institusi , pemikiran dan cara tindakan keagamaan. Dalam bahasa Jacques Waardenburgh (1999:477) suatu obyek pemikiran akan dapat tampil jika ia ditempatkan , difahami dan dijelaskan bersama-sama dengan keseluruhan sejarah sosial dan kultural dari masyarakat bersangkutan. Dalam kajian sejarah peneliti tidak mungkin bisa memahami dan memberikan interpretasi yang kritis jika tidak ada interes dari sang peneliti. Peneliti harus melibatkan diri dalam dialog masa lalu, dg catatan masa lalu yang bukan merupakan bagian dari sejarahnya sendiri. (Wach,1999:276)
b. Studi Kontekstual, pendekatan yang digunakan oleh Rahman dalam rangka mengkondisikan agama dalam konteks sosial, politik dan lain-lain, yang kemudian beliau menjelaskan situasi-situasi dan perkembangan religius tertentu yang muncul dari konteks ini. Sebagain mufassir seperti sayyid Qutb beranggapan bahwa penafsiran al qur’an tidak bisa dibatasi hanya pada masa turun nya saja dan tidak menjadikan arti dan petunjuknya hanya khusus pada kaum tertentu, atau masa dan tempat tertentu saja. Akan tetapi petunjuk dan arti ayat-ayat al qur’an itu sebenarnya universal dan aktual pada setiap masa dan tempat, kecuakli jika ada dalil yang menentukan ayat-ayta tersebut hanya khusus pad awaktu dan tempat tertentu.(al Khalidy, 1995::156)
c. Studi Hermeneutis, yakni pendekatan yang digunakan terhadap makna dari data-data (dalam hal ini berupa teks-teks keagamaan ) dan interpretasi yang dilakukan oleh pengikut agama tersebut dengan melihat kondisi, konteks ketika teks itu muncul dan pendekatan dari segi filologinya. Sebab seringkali karya para ahli sejarah didasarkan pada penelitian arkeologis-filologis yang telah dilakukan sebelumnya, dengan pengkajian yang cermat terhadap berbagai bahan dan bukti-bukti kesusasteraan masa lalu maka pemahaman mengenai bentuk masa lalu dapat direkonstruksikan. (Wach,1999:280) Ciri utama pendekatan Hermeneutik yang mengandalkan verstehen ini antara lain , pertamabahwa metode sosial adalah metode paling cocok untuk menghasilkan pengetahuan interpretatif berdasarkan pada verstehen, yang merupakan cara pengembangan pengethauan yang memanfaatkan kemampuan manusia menempatkan diri dalam situasi dan kondisi orang lain, dengan tujuan memahami fikiran, perasaan, cita-cita dorongan dan kemauannya. Kedua, ilmu sosial bersifat hermeneutik yaitu memberikan pemahaman(understanding) yang bersifat menyeluruh (Comprehensive) dan mendalam (in depth) tentang gejala yang menjadi obyek studinya (Saidi, 2004:47-48)
d. Pendekatan Fenomenologis, yakni pendekatan yang digunakan (oleh Rahman) dalam memahami pemikiran, perilaku dan bentuk lembaga keagamaan tanpa mengikuti salah satu teori filsafat, teologi, metafisik/psikologi atau yang lainnya (King, 1999:282). Rahman memulai kajiannya tidak menyandarkan diri pada teori sosial apapun yang telah baku, akan tetapi beliau menggunakan daya dan kemampuannya sendiri di dalam mengkaji sisi teks dan konteks al Qur’an. Metode fenomenologi yang digagas oleh Edmund Hussler ini menggunakan dua cara utama yakni : Epoche: penangguhan sementara penilaian tentang kebenaran sebuah obyek, dan Eidetic Vision: yakni upaya kajian terhadap essensi obyek tersebut. Dalam kata pengantarnya Rahman menulis buku ini adalah untuk membantah dan mengkoreksi pendapat orientalis sekaligus memberikan corak pemahaman baru tentang al qur’an. Tujuan Rahman ini sesungguhnya sesuai dengan maksud yang terkandung dalam pendekatan fenomelogis. Seperti yang diungkapkan oleh Ursula King (1999: 368) bahwa pendekatan fenomenologis memiliki tujuan untuk mempertajam pandangan terhadap hakikat khusus dari agama dan fungsinya dalam kehidupan sosial dan kultural, Juga membantu sejarawan untuk mencapai akhir sejati dari kajiannya berupa klarifikasi makna dan fenomena keagamaan.
Berkaitan dengan sumber dan metode pengumpulan datanya, jelas bahwa sumber utama data yang digunakan Rahman dalam kajiannya adalah al qur’anul kariim. Al Qur’an digunakan sebagai data Primer sementara pendapat sarjana terutama orientalis yang juga digunakan rahman dalam bukunya ini masuk dalam kategori data sekunder. Adapun untuk pengumpulan datanya oleh karena karyanya ini termasuk jenis penelitian kualitatif, maka proses pengumpulan datanya selalu diiringi dengan kegiatan analisa data.
Berkaitan dengan analisa data , metode analisa data yang beliau lakukan adalah dengan metode analisis isi (content analysis). Dalam pandangan Klaus Krippendorff (1993:71) data dalam analisis isi biasanya berupa data simbolik yang rumit dalam sebuah bahasa asli, catatan pribadi, karya sastra, teater, drama televisi, iklan, film, pidato, dokumen historis, interaksi kelompok, (bahkan) wawanacara dan bunyi dapat dianalisis dalam bentuk orisinalnya. Bagi sejarawan pembacaan terhadap dokumen-dokumen harus ditempatkan dalam konteks historisnya yang tepat. Dengan menggambarkan konteksnya kesenjangan dalam detail yang relevan terjembatani dengan penarikan inferensi dari berbagai informasi ( Krippendorff,1993:21)
Melihat tema-tema al qur’an sebagaimana yang digagas Fazlurrahman dalam bukunya ini, maka dapat disimpulkan bahwa kalsifikasi analisa isi yang beliau lakukan termasuk analisis isi semantik. Menurut Jenis, seperti yang dikutip oleh Krippendorff(1993:36) analisis isi semantik adalah analisa penunjukkan (Designation) yang menggambarkan frekuensi seberapa sering obyek tertentu (orang, benda, malaikat, kelompok, konsep dll) dirujuk. Analisis isi ini kadang disebut dengan istilah anaisis pokok bahasan ( Analysis Subject Matter). Di dalam sebuah analisis isi tujuan atau target penelitian harus dinyatakan secara jelas (Krippendorff,1993:25) Rahman sendiri telah menjelaskan tujuan dari penulisan karyanya ini sebagaimana beliau paparkan dalam kata pengantarnya.
Dalam rangka memperoleh kesahihan data (Validasi data) metode yang ditempuh Rahman dengan menggunakan informasi sumber data itu sendiri. Artinya tekhnik Triangulasinya dengan mengkomparasikan hasil penelitiannya dengan bunyi teks al qur’an. Keseluruhan tema al qur’an yang dibahas/ditulis Rahman senantiasa menggunakan al qur’an (ayat) sebagai penjelas tema tersebut. Seolah-olah rahman mengajak kita untuk membiarkan al qur’an berbicara dengan dan tentang dirinya sendiri . hal ini senada dengan apa yang diajarkan oleh ali ibn abi Thalib ketika beliau berkata :” استنطق القران” (Shihab,1999:14) Ulama kontemporer lain yang menyusun tafsirnya dengan menggunakan ayat yang lain sebagai sumber rujukannya adalah Syeikh Abdul Hamid al Farahi al Hindi yang menyusun kitab dengan judul:” Nizdam al Qur’an:Ta’wil al Furqan bil Furqan” . Metode Sayyid Qutb kadang mencoba membandingkan antara satu surat/ayat dengan surat/ayat lain untuk menjelaskan tentang adanya kesatuan surat-surat al qur’an. Dengan kata lain Sayyid Qutb beranggapan bahwa al qur’an adalah satu kesatuan yang saling bertautan yang sebagiannya menjelaskan sebagian yang lain.(al Khalidy,1995:143,149-150)
D. Pendapat Penulis.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan hal-hal berikut ini:
1. bahwa metode kajian al qur’an yang ditempuh oleh fazlurrahman memang agak baru (pada zamannya) sekalipun bibit-bibit/usaha awal dengan metode serupa sudah pernah dilakukan oleh ulama sebelumnya.
2. Pendekatan kajian al qur’an dengan cara tematik, memang lebih menarik disamping juga memperkaya dan menambah ketajamn makna yang dikandung oleh sebuah ayat/surat dalam sebuah tema yang sama. Kajian yang demikian semakin menjadikan pesan/makna al qur’an jadi utuh (holistik) dan tidak terpecah-pecah (parsial)
3. Pemiloihan tema al qur’an ke dalam 8 kategori itu patut dipertanyakan , atas dasar pemikiran/argumentasi apa al qur’an sebenarnya memuat kedelapan tema tersebut? Apakah didukung oleh data statistik? Prosentase jumlah ayat? Ataukah atas selera fazlurrhamna semata?
4. Fazlurrahman sama sekali tidak memasukkkan al Hukm (fiqh) sebagai bagian dari tema al qur’an padahal ia adalah bagian integral dari al qur’an yang sangat substansial. Nampaknya kriteria yang digunakan Rahman dalam menentukan tema-tema al qur’an lebih melihat kepada subyek dan hubungan antar subyek (seperti Tuhan, manusia Malaikat, Jin Iblis, Syaitan dan hubungan yang terjalin diantara subyek-subyek tersebut), Sementara obyek hukum (dan yang lain-lainnya) sama sekali tidak mendapat perhatian serius oleh fazlurrahman.
5. Pemilihan subyek / pelaku sebagai faktor utamauntuk menentukan tema-tema al qur’an pada gilirannya mengakibatkan pembahasan yang tumpang tindih dan tidak fokus. Tema kedua, ketiga dan kedelapan sesungguhnya bisa dikategorikan dalam satu tema besar yang tidak perlu dipisah-pisahkan. Pemisahan bisa dilakukan dalam uraian /pembahasan tema sentral tersebut, umpamanya dengan menggunakan judul manusia mahluk bidimensional.
6. Keseluruhan tema al qur’an dibahas secara tajam, mendalam dan bagus, kecuali pada tema kedelapan. Di sini Rahman kehilangan moment emasnya, karena fokus kajian adalah lahirnya masyarakat muslim akan tetapi di dalamnya justru dibentangkan panujang lebar perdebatan tentang entitas agama islam yang bukan merupakan unsur yahudi dan nasrani melainkan turunan dari nabi Ibrahim as.
7. Adalah benar pernyataan Rahman yang mengatakan bahwa al qur’an tidak membuktikan adanya Tuhan akan tetapi menunjukkan cara untuk mengenal Tuhan. Filsuf Kontemporer Prancis Roger Garaudy (1982:146) mengatakan bahwa dalam al qur’an Tuhan tidak menunjukkan diri-Nya akan tetapi hanya menunjukkan sabdaNya dan hukumNya.
8. Rahman beranggapan bahwa manusia bukanlah mahluk yang terdiri atas jiwa dan raga (hal. 26) pendapat beliau jelas secara diametral bertentangan dengan mayoritas kelompok filsuf baik Muslim maupun filsuf Yunani pada umumnya. Berbeda halnya dengan Ali Syari’aty (1982:90) beliau mengatakan bahwa manusia adalah gabungan lumpur (materi) dan Ruh Allah (Immateri). Ia adalah zat yang bidimensional, mahluk yang bersifat ganda , berbeda dengan mahluk-mahluk lainnya yang unidimensional.
9. Hal menarik lainnya adalah ketika Rahman mengatakan bahwa al qur’an diturunkan dengan mengambil setting kondisi masyarakat jahiliyyah yang cenderung timpang baik secara sosial maupun ekonomi.

Tidak ada komentar: